Sistha's Blog

Blog seorang perempuan kecil yang beranjak dewasa

Archive for the tag “first love”

The Queen’s Classroom [女王の教室]

Akutsu MayaApril, saatnya sekolah (di Jepang) memulai semester baru. Seperti anak-anak lainnya yang penasaran dengan siapa yang akan menjadi guru pengajar di kelas selanjutnya. Terlebih untuk Kanda Kazumi (Michiko Hada) dan kawan-kawan yang naik ke kelas 6, harapan akan kelas yang menyenangkan, membuat kenang-kenangan bersama teman-teman sebelum nanti merayakan kelulusan.
Namun sepertinya satu tahun kedepan akan menjadi waktu yang amaaat panjang bagi kelas 6-3. Pasalnya mereka mendapatkan guru kelas yang luar biasa “gelap”. Tidak hanya penampilan, namun juga karakter dan metode mengajarnya. Bertemu dan diajar oleh Akutsu Maya-sensei (Yuki Amami) menjadi pengalaman yang takkan terlupakan oleh 24 siswa di kelas tersebut. Gaya bicara dan perilakunya berkelas dan mengagumkan bak seorang ratu. Selain itu kecerdasan yang tinggi, seniman dan olahragawan berbakat, juga kepandaian dalam hal medis menjadi perhatian, perbincangan dan kekaguman dari para guru dan orang tua siswa. Terlihat menyenangkan ya diajar oleh guru yang sangat capable, akan tetapi…

Di kelas Akutsu Maya-sensei, nilai tes menentukan segalanya. Bahkan penentuan ketua-wakil kelas beserta tugas-tugas piketnya ditentukan juga oleh hasil tes. Tes dilaksanakan setiap pekan. Mereka yang membangkang akan menerima hukuman yang ditentukan oleh Maya. Diantara 24 siswa itu, Kanda, gadis 12 tahun yang riang dan lugu dengan berani menantang Maya dengan segala aturannya yang semakin menggila dari hari ke hari. Sikap berani ini tidak didukung oleh teman-teman lainnya yang memilih menjadi “peliharaan” Maya. Alhasil rasa iri, penghinaan, ketidakpercayaan, dan pengkhianatan menjadikan suasana kelas tidak menyenangkan. Berbagai perlakuan itu dialami Kanda, dia dijadikan tersangka oleh teman-temannya sendiri. Tak menyerah Kanda tegar melewati semuanya walau dengan linangan air mata. Seiring waktu berlalu, Yusuke dan Shindo menjadi teman pertama yang setia dan mendukung Kanda. Posisi dan tekad Kanda semakin kuat untuk melawan Maya, dan begitupun Maya sama sekali tak mengendurkan pertahanannya.

Pertarungan sengit, pedih dan bikin sedih akan menghiasi layar anda sepanjang 11 episode + 2 part spesial. Saya rekomendasikan drama ini untuk ditonton, terlebih bagi anda yang menyukai dunia mengajar/ pendidikan. Sepanjang episode saya selalu memperhatikan barangkali ada hal-hal aneh dan tidak masuk akal. Karena beberapa film/ drama Jepang seperti itu, memaksakan antara jalan cerita dengan ending-nya. Well, dan sejauh ini saya tidak menemukan keganjilan itu. Pengen deh Indonesia membuat dan menyajikan drama seperti ini (tapi gak mendiplak loh ya). Agaknya kita perlu guru yang tegas seperti ini, bukan galak! eitss.. meski nampak serupa tapi galak dan tegas adalah 2 hal yang berbeda. Lihatlah bagaimana anak-anak sekarang menjadi malas, manja, tidak disiplin dan dengan mudahnya melanggar peraturan akibat pengajaran yang tidak tegas dan seadanya, baik di sekolah terlebih di rumah.

Akutsu Maya

April – the season for the new school term. Meet Maya Akutsu, a mysterious new teacher at Hanzaki Elementary School. Her way of talking and behaving is as graceful and magnificent as a queen. Miss Akutsu, with her high intelligence, artistic talent, and perfect athletic skills, soon overwhelms the other teachers and makes all the parents obedient. She takes charge of “Class Three” in the sixth grade. In Miss Akutsu’s class, test scores precede everything else. She gives pop quizzes every week and students with low scores have to do odd jobs in the classroom, like her slaves. If they try to disobey, they’re severely punished. Miss Akutsu is the law. She is the queen of her domain. Kazumi, one of her students, soon becomes her main target. Although Kazumi is a sweet and innocent twelve-year-old girl, she cannot achieve above average on either her exams or in gymnastics. Kazumi withstands Miss Akutsu’s outrageous brand of “punishment,” but her classmates begin to crack in the grip of fear. Jealousy, slander, and betrayal run rampant in the class. Even in the darkest time of her life, however, Kazumi strongly wishes to “graduate happily with her classmates”, and she finally decides to gather up all the students to face their evil teacher. How will the 24 sixth-graders grow up during the final year at elementary school? And what is Miss Akutsu’s real purpose of being so devilish toward her students?

NB: ada 2 anak yang selanjutnya bisa kalian lihat di Chibi Maruko-chan live action. Akting apik dari Amami dan Hada juga bisa kalian lihat di BOSS

Crazy Little Thing Called.. Love (สิ่งที่เรียกว่ารักน้อยบ้า)

Film berdurasi 118 menit ini menjadi salah satu film Romantic Comedy Box Office Thailand dan menjadi film terlaris sepanjang 2010. Mampu membuat para remaja maupun yang telah melewatinya bernostalgia dengan pahit manisnya cinta monyet. Apalagi kelakuan siswa-siswi Thailand disini ternyata tidak berbeda jauh dengan remaja Indonesia ha..ha.. iya dong, seragamnya persis banget dengan waktu gue SMP.

Bercerita tentang Nam (Pimchanok Luevisetpaibool) seorang siswi berusia 14 tahun yang berusaha menarik perhatian cowok yang disukainya, bintang sekolah bernama Chone (Mario Maurer). Nam berusaha merubah penampilannya, mencerahkan kulitnya yang gelap, mengikuti pertunjukan drama, menggantikan major marching band, semuanya ia lakukan demi merebut perhatian Chone. Tapi saat penampilannya berubah dari ‘itik buruk rupa’ menjadi  ‘angsa yang cantik’, rupanya tidak membuat segalanya lebih mudah. Ketika mulai dekat dengan Chone, justru banyak hal terjadi termasuk terancamnya persahabatan Nam dengan ketika sahabatnya. Dan bagaimana Nam yang tidak dapat mengambil keputusan saat Top, sahabat dekat Chone menyatakan perasaan padanya.

Keberhasilan film Crazy Little Thing Called Love ini tak lepas dari keputusan sutradara film ini dalam menempatkan pemeran yang mampu dengan sangat baik menghidupkan setiap karakter yang mereka bawakan, khususnya Pimchanok Luevisetpaibool yang berhasil memerankan karakter Nam dan menjadikannya sebagai sesosok karakter yang sangat menyenangkan di balik seluruh keluguannya dalam mengenal cinta pertamanya. Karakter Nam sendiri menjadi terasa begitu hidup berkat dukungan tiga karakter sahabatnya yang selalu dapat diandalkan dalam memberikan berbagai adegan komedi untuk film ini.
Sebagai lawan main Pimchanok Luevisetpaibool, aktor muda blasteran Thailand-Jerman, Mario Maurer, memang sangat tepat untuk memerankan Chone yang menjadi idola seluruh gadis di sekolahnya. Walau sepertinya hal tersebut tidak membutuhkan kemampuan akting yang terlalu mendalam, penampilan Maurer sebagai Chone tidak sepenuhnya mengecewakan. Setidaknya ia juga berhasil dalam menampilkan sisi sensitif karakternya yang datang ketika karakter tersebut berhubungan dengan masalah masa lalu sang ayah atau perjuangannya dalam berusaha untuk membuktikan kemampuannya dalam bidang fotografi dan sepakbola.

Yup, afterall menurut gue ini film layak ditonton sebagai hiburan. Bagi sebagian orang tokoh Teacher In (Sudarat Budtporm) terlihat berlebihan dan kurang berhasil. Namun, buat gue justru tokoh inilah yang menghidupkan dan membuat film ini menghibur ditambah lagi dengan logat-logat Thailand yang cukup aneh seperti “Oyyy” dan “Aww”. Dan sampai saat ini gue belom bisa membaca nama-nama Thailand sekalipun ditulis dalam huruf latin super rapi.

source:

http://bicarafilm.com/baca/2011/02/16/crazy-little-thing-called-love-thailand-2010.html
http://zauzabarito.blogspot.com/2011/03/crazy-little-thing-called-love.html
http://movienthusiast.wordpress.com/2011/03/19/review-crazy-little-thing-called-love-2010/

Post Navigation