Sistha's Blog

Blog seorang perempuan kecil yang beranjak dewasa

Anak dan Karya Gelap

Siang itu di sebuah taman kanak-kanak. Ibu guru meminta anak-anak untuk menggambar bebas. Ada yang menggambar pemandangan. Ada gunung dan sawah. Ada sungai dan pantai. Ada hutan dan taman. Ada yang menggambar suasana. Ayah dan ibu bergandengan tangan dengan dua anaknya. Bibi belanja ke pasar dengan sepeda. Nenek menyulam dan kakek membaca koran. Dan beberapa gambar biasa lainnya.
Namun ada seorang anak yang agak lain. Dia membuat sapuan warna hitam di kertas gambar A3 nya. Hanya warna hitam. Guru yang saat itu hendak bertanya tetapi tidak sempat karena jam pulang sekolah tiba. Bu Guru itu berkata, “Gambarnya diselesaikan di rumah ya anak-anak. Minggu depan dikumpulkan.”
Di rumah pun anak ini kembali meneruskan keanehannya, memenuhi berlembar-lembar kertas A3 dengan sapuan warna hitam hingga berkali-kali sang ibu harus membelikannya satu set crayon. Dan ia hanya memakai crayon warna hitam. Hari demi hari tiap ada waktu anak ini selalu membuat coretan hitamnya, di rumah, di sekolah. Tumpukan kertas yang telah hitam itu membuat sang ayah geleng-geleng kepala, sang ibu cemas.  Dan mereka menghubungi sekolah hingga memutuskan untuk membawa anak itu ke psikiater!
Para psikiater berhasil membujuk anak itu untuk melanjutkan karyanya di laboratorium pengamatan mereka. Seperti kerasukan anak itu tetap bekerja. Pengamatan para ahli selama berjam-jam tidak menemukan analisis/ diagnosa apapun. Sampai akhirnya sang akan tersenyum dan berkata, “Aah..” Dia telah menyelesaikan 400 lembar gambar A3. Dan ternyata, ada beberapa yang tak hitam seluruhnya.

Ia mulai memberi instruksi para psikiater untuk menata puzzle 400 lembar itu di lantai. Oh, ternyata ini adalah puzzle,. ukurannya 20×20 kertas A3. Dan hasilnya? Menakjubkan!! Gambar seekor anak paus bongkok tepat sesuai ukuran hewan aslinya!!
Anak itu terkekeh bangga dengan hasil karyanya. Para psikiater pun takjub geleng kepala. Tak seperti yang lain, anak ini ingin agar gambar anak paus sesuai dengan ukuran “aslinya”. Ia berpikir besar. Awalnya ia tak difahami, dianggap aneh, bahkan diserahkan pada psikiater. Tapi akhirnya semua orang takjub padanya.

Mungkin begitulah resiko berpikir besar. Disalahfahami. Lalu dikagumi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: