Sistha's Blog

Blog seorang perempuan kecil yang beranjak dewasa

PSIKOLOGI

Pengalaman membaca para ideolog, pemimpin dan negarawan dapat dijadikan bukti otentik abad 18-20 bahwa karena membacalah mereka menjadi orang besar atau pahlawan. Merekapun membuktikan bahwa perintah (iqra) sebagaimana firman pertama Allah swt merupakan ajaran universal, siapapun pelaksananya akan menjadi orang sukses -terlepas dari agama, ras, dan golongan.

Mohammad Hatta

Pada saat melanjutkan studinya di Belanda ataupun dalam kunjungan ke negara lain, hal pertama yang dilakukannya adalah memborong buku. Seperti yang ia lakukan saat pergi ke Jerman, buku-buku yang dibelinya antara lain 2 jilid Grundriss der Allgemeine Volkswirtschaftslehre 1400 halaman, Kapital und Kapital Zins 1400 halaman, 4 jilid Der Moderne Kapitalismus 2100 halaman dan banyak lagi. Luar biasa!

Bagi Bung Hatta, buku seperti istri pertamanya. Kemanapun ia pergi, buku selalu menemaninya bahkan ke pembuangan sekalipun. Begitulah Bung Hatta, perjalanan hidupnya adalah sejarah membaca dan menulis. Dan inilan warisan paling berharga bagi bangsa Indonesia yaitu membaca.

Tan Malaka

20 tahun mengembara dalam pelarian politik menngelilingi hampir separuh dunia, dimulai dari Amsterdam dan Rotterdam (1922) diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moscow, Kanton, HongKong, Manila, Shanghai, Amoy, dan desa pedalaman di Tiongkok, sebelum ia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Selama pelarian itu ia menggunakan 13 alamat rahasia dan setidaknya 7 nama samaran. Di Manila, ia dikenal sebagai Elias Fuentes dan Estanislau Rivera, sedangkan di Filipina Selatan menjadi Hasan Gozali. Di Shanghai dan Amoy, ia adalah Ossario, wartawan Filipina. Ketika menyelundup ke Burma, ia menjadi Oong Soong Le, orang Cina kelahiran Hawaii. Di Singapura, menjadi guru bahasa Inggris bernama Tan Ho Seng. Kembali ke Indonesia, ia bekerja di pertambangan Bayah, Banten dan menjasi Ilyas Hussein.

Pelarian dan penyamaran itu dimungkinkan, salah satunya karena Tan Malaka menguasai bahasa-bahasa setempat dengan baik. Ia berbicara macam-macam bahasa: Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Tagalog, Tionghoa, dan Melayu.

Pahlawan tanpa tanda jasa mungkin saja ada, tetapi pahlawan tanpa “tanda baca” itu sangat sulit mencari figurnya. Bagaimana bisa berbicara dan menulis apabila tidak memiliki banyak pengetahuan yang instrumen utamanya adalah membaca.

Suherman, 1431H. Bacalah: Menghidupkan Kembali Semangat Membaca Para Mahaguru Peradaban. Bandung: MQS Publishing.

————————————————————————-

Ibnu Sina atau Avicenna

Nama beliau Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا), yang kita kenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Avicienna di dunia Barat. Beliau lahir tahun 370 Hijriyah (980 masehi) di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara dan meninggal pada bulan Juni 1037 masehi di Hamadan, Persia (Iran). Beliau juga disebut sebagai “Bapak Kedokteran Modern” karena karya-karyanya yang menjadi acuan dalam bidang kedokteran.

Ibnu Sina menjadi seorang hafiz ketika usia beliau 10 tahun. Beliau fasih berbahasa Arab. Selain ahli bidang kedokteran, beliau juga mendalami falsafah, matematika dan astronomi.

Ibnu Sina telah menulis sebanyak 450 buku, banyak diantaranya tentang filosofi dan kedokteran. Sumbangan penting paling fenomenal dari Ibnu Sina bertajuk The Canon of The Medicine Medicine (Arab: القانون في الطب Al-Qanun fi al-Tibb “The Law of Medicine”; Persia: قانون پزشکی Qanun “Law”; Latin: Canon Medicinae “Canon of Medicine”; Cina: Huíhui Yàofāng “Prescriptions of the Hui Nationality”). Buku ini selesai ditulis pada 1025.

Menurut Toby Huff dan A.C. Crombie, Canon berisi “satu set aturan yang didasarkan pada percobaan untuk menguji dan menggunakan obat-obatan” yang merupakan “sebuah panduan yang teliti untuk praktek eksperimen” dalam proses “menemukan dan membuktikan efektivitas substansi medis.”

Penekanan The Canon pada obat-obatan yang diuji adalah untuk meletakkan landasan pendekatan  eksperimental secara pharmacology. The Canon menurunkan aturan dan prinsip-prinsip untuk menguji efektivitas obat-obatan dan obat baru (yang masih membentuk dasar dari klinis pharmacology  modern dan percobaan klinis sampai saat ini):

  1. Obat harus bebas dari kualitas asing yang bersifat ‘kebetulan’.
  2. Obat harus dapat digunakan dengan mudah, bukan merupakan campuran (dengan substansi yang tidak jelas), apalagi mendatangkan penyakit.
  3. Obat-obatan harus diuji dengan dua tipe yang bertentangan dari penyakit-penyakit, karena kadang-kadang sebuah obat bisa mengobati satu penyakit karena  kualitas esensi dan kadang pula karena faktor kebetulan. (terjemahan no 3 ini tampaknya masih perlu koreksi).
  4. Kualitas obat harus sesuai dengan kekuatan penyakit.
  5. Saat tindakan harus diperhatikan, agar pemahaman antara esensi dan faktor kebetulan tidak tercampur.
  6. Efek obat harus dilihat atau terus dipantau pada banyak kasus, sebab jika efek obat tidak  terjadi, itu bisa jadi merupakan suatu  kebetulan.
  7. Eksperimentasi harus dilakukan pada tubuh manusia, untuk menguji sebuah obat pada singa atau kuda mungkin tidak membuktikan apa-apa berkaitan dengan efeknya pada manusia.

Canon memuat sebanyak 800 obat yang sudah diuji, termasuk tanaman dan zat mineral, dengan komentar-komentar pada aplikasi dan efektifitasnya. Untuk masing-masing, ia jelaskan tindakan-tindakan  farmasi dari berbagai kemungkinan dari sebuah range yang memuat 22 kemungkinan (termasuk resolusi, astringency dan kelemahan), dan properti khusus dengan sebuah grid bagi 11 jenis penyakit.

Ibnu Sina sering bersandar pada pemikiran deduktif dalam “The Book of Healing” dan tulisan-tulisan tentang logika pada filsafat Islam, tetapi ia menggunakan pendekatan yang berbeda dalam The Canon of  Medicine. Teks ini memberikan kontribusi untuk pengembangan logika induktif, yang digunakan untuk mengembangkan ide dari sindrom untuk mendiagnosa penyakit tertentu.

Buku ini memberikan kontribusi kepada ilmu farmasi termasuk pengenalan eksperimentasi sistematis dan perhitungan ke dalam pharmacology dan ilmu fisiologi. Pengenalan  percobaan obat-obatan, obat-obatan berdasarkan bukti, percobaan klinis, tes acak terkontrol, tes kemanjuran dan  pharmacology klinis, penjelasan yang teliti tentang masalah kulit, penyakit menular seksual, perbuatan yang abnormal dan penyakit saraf, dan penemuan penyembuhan dengan merkuri selain racun yang ditimbulkannya; selain itu: penggunaan es untuk merawat demam, dan pemisahan antara obat medis dengan obat pharmacology.

The Canon of MedicineIbnu Sina menulis risalah suplemen  terpisah yang didedikasikan untuk pharmacotherapy yang disebut Hindiba, sebuah obat kompleks. Ia menyarankan untuk menggunakan obat ini untuk pengobatan kanker dan tumor lainnya, juga dapat digunakan untuk merawat neoplastic disorders. Dia memberikan rincian tentang peralatan obat dan penggunaannya, dan kemudian memberikan instruksi persiapannya sebagai obat.

Kontribusi Canon pada fisiologi meliputi pengenalan eksperimentasi sistematis dan penghitungan pada ilmu fisiologi. Tulisan-tulisan tentang  anatomi di Canon tersebar di seluruh teks dalam bagian mengenai penyakit yang berkaitan dengan bagian tubuh tertentu. Canon menyertakan berbagai diskusi tentang anatomi dan diagram pada beberapa bagian tubuh, termasuk diagram pertama yang berhubungan dengan jahitan pada tengkorak.

Ibnu Sina mendedikasikan sebuah bab dari Canon untuk tekanan darah. Dia mampu menemukan penyebab bleeding (pendarahan) dan haemorrhage, dan menemukan bahwa pendarahan dapat dipaksa oleh tekanan darah tinggi karena tingkat kolesterol yang tinggi dalam darah. Hal ini menyebabkan dia  menyelidiki metode mengendalikan tekanan darah. Ibnu Sina menemukan the cerebellar vermis yang dinamakannya “vermis” dan the caudate nucleus yang dinamakannya “tailed nucleus” atau “nucleus caudatus”. Istilah tersebut masih digunakan dalam neuroanatomy modern dan neurophysiology. Canon yang juga merupakan teks awal yang mencatat bahwa disfungsi intelektual sebagian besar disebabkan oleh defisit pada ventrikel tengah otak.

Kontribusi Canon pada Ophthalmology  di abad Islam meliputi penjelasan mengenai fisiologi pergerakan mata, yang merupakan informasi bentuk dasar  bagi Ophthalmology modern. Dia juga memberikan informasi bermanfaat pada saraf optik, irisan mata, pusat mata dan paralyses (hilangnya fungsi otot) pada pinggiran wajah. Canon memelopori pendekatan modern untuk memeriksa nadi melalui pemeriksaan di pergelangan tangan, hal yang masih dilakukan di jaman modern. Alasan memilih pergelangan tangan sebagai lokasi yang ideal adalah karena denyut telah tersedia dengan mudah dan pasien tidak perlu harus memperlihatkan   tubuh tertutupnya. Terjemahan Canon dalam bahasa Latin juga meletakkan landasan untuk penemuan sphygmograph di kemudian hari. Ibnu Sina menulis risalah tambahan pada diagnosa penyakit yang hanya dengan menggunakan metode merasakan dan mengamati pulse pernafasan.

Subhanallah. Luar biasa kecerdasan yang dikaruniakan Allah pada Ibnu Sina. Semangat belajar dan mengajarkan serta kecintaaan pada ilmu pengetahuan yang begitu besar pada diri beliau. Bahkan sampai akhir hayatnya beliau sedang mengajar di sebuah sekolah. Beliau meninggal akhibat maag kronis. Para siswa yang beliau ajarkan merasa beruntung berkesempatan telah diajarkan oleh Ibnu Sina sebelum akhirnya beliau wafat.

Ref: wikipedia, http://pisangkipas.wordpress.comhttp://kolom-biografi.blogspot.com,
http://geobaja.comhttp://www.cnemay.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: