Sistha's Blog

Blog seorang perempuan kecil yang beranjak dewasa

Budaya Literasi Bukan Hanya Menulis

Izinkan saya berbagi sedikit kepada anda sekalin tentang satu hal penting yang belum banyak mau dilakukan orang. Pengalaman semasa kuliah, partisipasi dalam suatu kepanitiaan ataupun organisasi takkan aneh jika anda menemukan saya menjadi sekretaris. Kata teman-teman sih itu kutukan. Saya sih santai-santai saja, toh itu hanya status formal. Yang jelas sih kalau saya yang jadi sekretaris pastilah yang mencatat hanya saya seorang. Yup, dan sudah terbukti pada beberapa kasus hehe. Mungkin teman-teman lain berpikir karena sudah ada yang mencatat maka saya tidak perlu mencatat juga, kan nanti tinggal minta copy jika butuh.

Hal yang menarik saya simak pada suatu pertemuan di ahad pagi yang cerah. Seorang pembicara menyampaikan keprihatinannya akan ketidakjelasan, dan ketidakteraturan data-data yang ada yang saat itu dikelola oleh mahasiswa -sebut saja katanya mahasiswa terbaik bangsa-. Pembicara tersebut mengatakan bahwa budaya literasi kita memang masih rendah, bukan hanya menulis namun juga dalam hal mencatat (catatan biasa, data-data termasuk catatan keuangan).

 Dapatkah poin tulisan saya ini? Ya, tentang mencatat yang ternyata juga termasuk dalam budaya literasi. Keberadaan sebuah catatan ini penting ya kawan, bahkan ketika kita mencari jawaban atas pertanyaan melalui mesin pencari yang kita temukan adalah tulisan-tulisan dari web atau blog orang-orang yang kesemuanya berupa tulisan dan untuk kita baca. Saya pernah merasakan sulitnya mencari suatu data untuk keperluan akademik dan seketika itulah saya membayangkan, seandainya tidak ada yang mau menulis artikel atau data mungkin mesin pencari itu akan kosong. Kenapa? Karena tidak ada tulisan apapun untuk dicari dan dibaca karena tak ada yang menulis.

Dalam salah satu riwayat, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata, “Dulu aku menulis semua perkara yang aku dengar dari Rasulullah SAW untuk aku hafalkan. Namun, orang-orang Quraisy melarangku dan bertanya, “Kamu menulis semua yang kamu dengar dari Rasulullah SAW. Beliau adalah manusia yang berbicara ketika senang dan ketika marah?” Aku pun berhenti menulis. Lalu, aku menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Beliau memberi isyarat ke mulutnya dengan jarinya seraya bersabda, “Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran.”

Para sahabat adalah teladan bagi kita untuk tidak melupakan aktivitas menulis. Aktivitas menulis para sahabat dilakukan dengan mencatat kejadian di zaman Rasulullah SAW dan mencatat perkataan-perkataan beliau. Dalam pemeliharaan wahyu pun, menulis tak ditinggalkan. Kekuatan hafalan yang dimiliki para sahabat tak menafikan pencatatan wahyu yang diterima Rasulullah SAW. Ketika menerima wahyu, Rasulullah SAW juga seringkali meminta para sahabat yang bisa menulis untuk menuliskannya, baik ketika wahyu turun di Mekah maupun di Madinah. Media untuk menulis Al-Quran pada masa itu masih sangat sederhana, yakni di pelepah korma, batu, kulit dan tulang binatang, daun, dan sebagainya.

Menurut suatu riwayat, beberapa sahabat yang mencatat wahyu ada sekitar 40 orang, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, ‘Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, dan lain-lain. Dari kalangan perempuan yang bisa menulis pada awal kemunculan Islam adalah Ummu Kultsum binti Uqbah, Karimah binti Miqdad, dan Syifa binti Abdullah. Atas perintah Rasulullah SAW, Syifa’ binti Abdullah mengajari Hafshah ilmu tulis dan setelah itu Hafshah masuk dalam golongan para penulis wahyu.

Pentingnya menulis di zaman Islam awal tak sekadar mencatat wahyu, tapi juga naskah perjanjian, surat-surat, dan urusan lainnya. Terkait surat, penulisan dan pengiriman surat kepada para pembesar pelbagai negeri sebagai ajakan untuk masuk Islam merupakan peristiwa dakwah yang menyejarah.

Dengan demikian, perhatian Islam terhadap aktivitas menulis memang secara jelas dapat kita saksikan dari contoh dan perbuatan nyata di atas. Melalui surat al-’Alaq ayat 1 sampai 5, Allah SWT secara implisit mengatakan: membaca dan menulislah wahai umat Islam, peradaban milik kalian! Pentingnya menulis juga ditegaskan Allah SWT dalam surat al-Qalam ayat pertama, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tuliskan.”

Dalam ayat pertama surat Al-Qalam itu, Allah SWT bersumpah dengan dua hal, yakni kalam/pena dan apa yang ditulis. Berdasarkan pengertian umum dari para ulama, sumpah Allah SWT terhadap sesuatu berarti menandakan bahwa sesuatu itu memang penting. Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy menjelaskan bahwa ayat tersebut mendorong manusia untuk belajar menulis yang memiliki kaitan dengan wahyu pertama pada surat al-’Alaq yang mendorong manusia belajar membaca.

Alhamdulillah, para sahabat telah membuat rekaman melalui catatannya. Coba saja jika tidak ada sahabat yang menulis, bagaimana kita belajar Al Qur’an dan mendalami Islam. Ya secanggih apapun teknologi, semua berawal dari tulisan.

Tulisan ini dibuat spesial untuk mereka yang suka menulis dan mereka yang mau belajar menulis.

3 thoughts on “Budaya Literasi Bukan Hanya Menulis

  1. Terima kasih atas postingnya. Saya sedang belajar menulis. Ini tiang saya nantinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: