Sistha's Blog

Blog seorang perempuan kecil yang beranjak dewasa

Masjid Salman ITB

Arsitek Pejuang Masjid Salman ITB

Beberapa hari yang lalu saya membuat sebuah note yang berisi tentang kesukaan saya dengan tempat ibadah yang satu ini. Rasanya namanya sudah tidak asing lagi di kalangan mahasiswa Indonesia, dialah Masjid Salman ITB. Masjid yang berlokasi di Jl.Ganesa no.7 (kalau tidak salah) ternyata merupakan masjid kampus pertama di Indonesia. Dengan ciri khas bangunan masjid ini adalah tanpa kubah dan tiang di ruang utamanya. Siapakah arsitek yang berada di balik perancangan masjid ini?

Beliau adalah Ir. Achmad Noe’man. Bapak kelahiran Garut, 10 Oktober 1962 ini mengaku minatnya pada dunia arsitektur diilhami oleh sang ayah yang selalu merancang sendiri madrasah dan masjid yang akan dibangun. Ayah beliau H. Muhammad Djamhari adalah salah satu pendiri Muhammadiyah di Garut.
Setelah lulus dari SMA Muhammadiyah Yogyakarta, beliau melanjutkan studi jurusan Teknik Sipil/ Bangunan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Bandung (sekarang ITB) karena tidak ada jurusan arsitektur pada waktu itu (1948). Barulah pada tahun 1952 FTUI membuka jurusan arsitektur dan Noe’man segera mendaftarkan diri.

Sejak 1948, Noe’man aktif berdiskusi dengan kakaknya -Dekan Fakultas Teknik ITB- (alm) tentang pentingnya keberadaan masjid di kampus. Sulitnya ketika hendak menunaikan sholat wajib apalagi sholat jum’at, terlebih saat itu di ITB masih banyak orang Belanda bahkan rektornya juga seorang Belanda.
Untuk mewujudkan rencana pembangunan masjid kampus, tahun 1958 dibentuklah panitia dengan Prof. T.M. Soelaiman sebagai ketua dan Noe’man ditunjuk sebagai arsiteknya. Rancangan selesai, panitia mengajukannya ke Rektorat namun ditolak.

Seorang murid Noe’man mengusulkan untuk bertemu Presiden Soekarno melalui pamannya, seorang komandan di Cakrabirawa. Empat orang -Soelaiman, Noe’man, Ahmad Sadali dan Ajat Sudrajat- ke Jakarta menemui Presiden Soekarno di Istana Negara. Diskusi terjadi cukup alot yang berakhir dengan dukungan Presiden Soekarno dengan membubuhkan tanda tangan beliau pada gambar rancangan. Presiden Soekarno jugalah yang memberi nama “Salman” karena terinspirasi arsitek perang yang ulung pada zaman Nabi Muhammad saw. Bahkan beliau bersedia menjadi pelindung pembangunan masjid Salman. Setelah itu rektor pun menyetujuinya demikian juga dengan walikota Bandung. Setelah itu dimulailah pembangunan masjid Salman.

Hal menarik saat diskusi dengan Presiden Soekarno. Beliau bertanya mengapa masjid ini tidak berkubah? Waktu itu Noe’man menjawab dengan logika Soekarno, bahwa dalam Islam yang penting adalah ”api” nya.  Asalkan itu masjid maka sah-sah saja walaupun tidak berkubah. Noe’man juga menuturkan bahwa salah satu prinsip yang dipegangnya adalah ijtihad, yakni melakukan terobosan berdasarkan ilmu, tanpa imitasi dan meniru-niru. “Kalaupun salah, ijtihad itu kan tetap dapat pahala satu,” tutur Noe’man menjelaskan.  Ijtihad Noe’man itu disetujui juga oleh Soekarno dan seluruh panitia, sehingga jadilah Masjid Salman, satu  masjid yang berdiri megah tanpa kubah di atasnya.

Kemudian prinsip tentang shaf (barisan) shalat harus bersambung/ tidak boleh terpotong, yang menjadi ciri masjid rancangan Noe’man tanpa tiang didalamnya yang dapat memotong shaf. Seperti di Masjid Salman atau Masjid Islamic Center Jakarta yang walaupun lebarnya mencapai 50 m, Noe’man mampu merancang bangunan ini tanpa tiang ditengahnya. Kendatipun adanya tiang dibenarkan untuk alasan darurat namun menurut beliau harus dicari ilmunya bagaimana agar tuntunan al-Qur`an dan Sunnah itu bisa diaplikasikan.

Salah satu aturan Allah yang menjadi perhatian Noe’man adalah QS. Al-Isra` [17] : 27.  “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya“. Beliau berupaya agar dalam pembangunan masjid tidak terjadi pemborosan. Beliau juga menyatakan ketidaksetujuannya pada masjid yang terlalu mewah. Akan lebih bermanfaat uang untuk “berhias” itu digunakan untuk keperluan lain.

Achmad Noe’man juga memegang prinsip aqidah Islam dalam membangun masjid. Ketika ada sebuah masjid yang memaksakan dibangun dengan menanam kepala kerbau, Noe’man kemudian memilih mundur, meskipun masjid itu dibangun oleh petinggi negara. Ada satu masjid terkenal di Jakarta, yang Noe’man harus mendatangi sejumlah pejabat dan tokoh Islam untuk meminta pendapat mereka tentang penanaman kepala kerbau. Alhamdulillah, rencana penanaman kepala kerbau itu dibatalkan.

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=91:ir-achmad-noeman-sang-arsitek-pejuang&catid=16:sosok&Itemid=14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: